Abdullah Dzul Bijadain, Sahabat yang Dijanjikan Surga Karena Pakaiannya

Please log in or register to like posts.
Abdullah Dzul Bijadain, Sahabat yang Dijanjikan Surga Karena Pakaiannya - Surau.co

Surau.co – Abdullah Dzul Bijadain memiliki nama asli Abdul Uzza Al-Mazani. Dia adalah seorang yatim dari keluarga tak mampu, sebuah kabilah Mazaniah yang terletak di antara Mekah dan Madinah. Kemudian namanya berganti menjadi Abdullah Dzul Bijadain yang artinya “yang memiliki dua potong kain”, sebuah nama pemberian dari Rasulullah.

Abdul Uzza telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sejak masih kecil, karena itulah ia tinggal bersama pamannya. Sang paman adalah seorang yang sangat kaya. Banyak harta yang telah dikeluarkannya untuk membiayai Abdul Uzza. Ia hidup bergelimang harta sampai-sampai ia hanya mau mengenakan pakaian yang terbaik. Ia juga memiliki 2 ekor kuda yang selalu dipakainya bergantian. Tapi sayang sekali, ia dan kaum bangsanya masih menyembah berhala.

Suatu saat, ketika Abdul Uzza sedang melakukan perjalanan, ia bertemu dengan kaum Muhajirin. Ia pun melakukan perbincangan dengan mereka dan setelah perbincangan itulah, akhirnya ia pun tergerak hatinya dan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Keadaannya pun berubah setiap kali melihat ada sahabat yang berhijrah dari Mekah dan Madinah, ia berlari dan mengikutinya seraya berkata, “Tunggulah aku sampai aku mendengar dari kalian Al-Quran. Aku ingin menghapal satu ayat baru dari kalian”. Ia memiliki tekad yang kuat untuk menuntut ilmu agama lebih dalam di saat para sahabat merasa jiwanya terancam serta ketakutan akan adanya mata-mata kaum Quraisy. Dalam pikiran Abdul Uzza saat itu hanyalah ingin mendekatkan diri kepada Allah saja.

Akhirnya ada seorang sahabat yang berkata, “Mengapa engkau menunggu di negerimu (Mekah) untuk pergi hijrah ke Madiah?”. Ia pun menjawab bahwa ia tidak akan berhijrah kecuali setelah ia mengambil tangan pamannya untuk menjemput sebuah hidayah. Ia pun menetap dalam kabilahnya selama 3 tahun. Ia tetap berpegang teguh pada agama Islam walaupun seluruh kaumnya jauh dari ketaatan dan menyembah berhala. Selama 3 tahun lamanya ia memaksakan diri untuk tetap istiqomah. Apabila ia ingin beribadah kepada Allah, maka ia akan pergi ke luar dari kaumnya ke tengah-tengah padang pasir. Selama ini ia menyembunyikan keislamannya dari hadapan orang-orang.

Setiap hari, ia pergi menemui pamannya seraya berkata, “Wahai Pamanku, aku mendengar bahwa ada seorang lelaki bernama Muhammad yang berkata ini dan itu”. Kemudian ia pun membacakan ayat-ayat al-Quran di hadapan pamannya. Namun pamannya malah mencercanya habis-habisan. Selama 3 tahun itu, ia mengalami masa yang berat. Akhirnya kesabarannya pun sampai pada puncaknya. Ia pun menemui pamannya dan berkata, “Wahai paman, aku lebih memilih Rasulullah dari pada engkau. Aku tidak dapat berpisah dengannya. Aku memberitahumu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya. Aku berhijrah kepadanya. Jika engkau mau pergi bersamaku, aku akan menjadi orang yang paling bahagia”. Pamannya pun menjawab, “Jika kau mengabaikan semuanya selain Islam, maka aku akan mengharamkan semua yang menjadi milikmu”. Ia menjawab, “Wahai paman, berbuatlah sesukamu, karena aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya”.

Pamannya pun melakukan hal yang tidak dapat dipercaya, “Kalau kau tetap memaksa, maka aku akan mengharamkanmu hingga baju yang melekat di badanmu itu”. Pamannya pun berdiri dan menggunting bajunya. Abdul Uzza pun hampir seperti orang yang telanjang. Ia pun tetap keluar dengan kondisi seperti itu. Saat keluar ia menemukan selembar kain wol dan membaginya menjadi 2 bagian, lalu memakainya seperti kain ihram. Kemudian ia berhijrah dan menemui Rasulullah untuk pertama kalinya.

Sungguh tidak bisa dibayangkan betapa besar keistiqomahannya kepada Rasulullah sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya.

Rasulullah pun bertanya, “Siapakah engkau?”

Abdul Uzza menjawab “Aku adalah Abdul Uzza”.

Rasulullah pun kembali bertanya, “Mengapa kamu berpakaian seperti ini?”

Ia kembali menjawab, “Pamanku telah berbuat ini kepadaku. Aku telah memilih engkau, wahai Rasulullah dan bersabar selama 3 tahun lamanya, hingga aku bisa datang kepadamu dalam keadaan istiqomah (tetap) taat kepada Allah”.

Rasulullah pun kembali bertanya “Benarkah kau telah melakukan hal itu?”

Ia pun kembali menjawab “Benar wahai Rasulullah.

Kemudian Rasulullah berkata “Mulai hari ini engkau bukanlah Abdul Uzza, engkau adalah Abdullah Dzul Bijadain. Allah telah mengganti 2 kain itu dengan tempat tinggal dan kain di dalam surga, yang dapat engkau pakai kapan pun engkau suka dan dapat kau gunakan kapan pun engkau suka.

Abdullah Dzul Bijadain menjalani kehidupan barunya dengan penuh kebahagiaan, hari-hari dilaluinya dengan beribadah kepada Allah. Abdullah Dzul Bijadain senantiasa menemani Rasulullah SAW layaknya seperti sepasang mata yang selalu bersama wajah, demi meraih petunjuk dan ilmu serta meniru akhlak dari orang yang paling sempurna akhlaknya. Kecintaannya kepada Rasulullah SAW tidak dapat diukir dengan kata-kata dan tulisan yang indah, hanya Allah yang tahu kadarnya.

Bersama beberapa sahabat lain, ia menjadi ahlus suffah. Tinggal di Masjid Nabawi karena tak punya rumah. Dengan hal itu, Abdullah Dzul Bijadain sangat dekat kepada Rasulullah SAW dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar kepada beliau tentang agama Islam.

Mencintai Islam adalah sebuah totalitas baginya. Setelah mempelajari lebih dalam tentang Islam dengan mentor terhebat yakni Nabi Muhammad SAW, semangatnya semakin membara. Api cinta dalam jiwawanya tak terkendali ketika itu berbicara tetang agama Allah SWT.

Para sahabat memang terkenal tidak punya ambisi yang berlebihan untuk mengejar dunia, sebaliknya mereka berlomba-lomba dan amat tekun untuk meraih derajat yang tinggi di surga kelak. Demikian pula dengan . Ekspektasinya terhadap kesyahidan guna mencicipi surga sangat tinggi sekali sehingga ia berharap agar mati pada medan jihad. Dia pun meminta kepada Nabi agar didoakan.

Tapi Nabi berkata kepadanya seraya memegang pundaknya, “Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan (tak rela) kaum kafir menumpahkan darahnya.”

Ini adalah ekspresi kecintaan Nabi kepada Sahabat yang mulia ini.

Baca juga: Tragedi Wafatnya Abdullah bin Zubair