Abdullah bin Zubair, Muhajirin Pertama yang Lahir di Lingkungan Muslim

Please log in or register to like posts.
Abdullah bin Zubair, Muhajirin Pertama yang Lahir di Lingkungan Muslim - Surau.co

Surau.co – Abdullah bin Zubair atau sering dipanggil Ibnu Zubair adalah putra dari Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar. Dalam koloni perjalanan Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, seorang wanita bernama Asma’ yang tak lain adalah putri, Abu Bakar Ash Shiddiq tengah mengandung bayi suaminya, Zubair bin Awwam.

Bayi itu juga tidak lain merupakan keponakan istri Rasulullah, Khadijah. Setibanya di Quba, Madinah pada 1 Syawal 3 Hijriah, atau 624 Masehi, Asma’ melahirkan. Lalu, bayi itu diberi nama Abdullah bin Zubair.

Abdullah bin Zubair adalah seorang Muhajirin – sebutan bagi Muslim Mekkah – yang lahir di wilayah Ansor, yakni di Madinah. Ia juga bayi pertama yang lahir di lingkungan komunitas muslim. Sebelum disusui, Abdullah bin Zubair dibawa menghadap Rasulullah SAW untuk ditahniq dan didoakan.

Menurut riwayat dari Bukhari, Rasulullah SAW mendoakan bayi ini pada saat kelahirannya. Dia merupakan muslim pertama yang lahir dalam masyarakat Islam dan hidup sampai umur 73 tahun. Namun, perjalanan pria yang kerap disebut Ibnu Zubair ini tak hanya sekadar menjadi Muhajirin pertama yang lahir di Madinah. Ia juga ikut dalam berbagai perjuangan bersama Rasulullah hingga terlibat kisruh politik kekhalifahan setelah Rasulullah wafat

Ibnu Zubair merupakan anggota dari Bani Asad. Sebagai orang muda, Ibnu Zubair berpartisipasi secara aktif dalam berbagai peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, seperti perang Badar dan perang Uhud. Bahkan dalam perang Uhud, dia termasuk salah seorang yang melindungi Muhammad pada saat kekalahan pihak muslim, di mana sahabat-sahabat yang lain melarikan diri.

Ada kisah menarik antara Abdullah bin Zubair dengan Umar bin Khattab. Cerita ini bermula ketika Umar sedang berjalan-jalan di kota Madinah. Ketika itu banyak anak kecil yang sedang bermain di jalan, tetapi ketika melihat Umar, mereka lari tunggang langgang meninggalkan jalanan tersebut. Namun ada satu anak yang tidak lari. Umar lalu mendekati anak tersebut dan bertanya, ” Hai anak, kenapa kau tidak ikut lari bersama mereka ? ”

Anak kecil itu menjawab, ” Kenapa aku harus lari, sedang aku tidak bersalah padamu ya Amirul Mukminin..”

Umar lalu menepuk-nepuk pundak anak itu dan berkata, “Sungguh suatu saat nanti, engkau akan menjadi seorang yang besar.” Dan anak kecil yang dimaksud itu adalah Abdullah bin Zubair.

Kemudian pada masa Khulafaur Rasyidin, Abdullah bin Zubair mengikuti pula berbagai pertempuran, baik melawan Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) maupun melawan Kekaisaran Sassaniyah.

Tragedi terjadi saat kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Setelah berbaiat atas kekhilafahan Ali, sahabat Nabi Thalhah bin Ubaidillah dan ayah Abdullah, Zubair pergi ke Mekkah menemui Aisyah membahas pertanggung jawaban kematian khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan.

Mereka sepakat untuk berangkat ke Basra beserta 700 orang lainnya untuk mencari pembunuh Utsman. Sesampainya di Basra mereka menemui Gubernur Basra yaitu Utsman bin Hunaif dan menahan pergerakan pasukan ini berharap mereka mau menunggu kedatangan Ali dari Madinah. Tetapi karena provokasi salah satu khawarij yang bernama Jalabah, peperangan antara Utsman bin Hunaif dan pasukan Aisyah tidak terbendung. Utsman bin Hunaif terbunuh. Ali yang mendengar kematian gubernurnya mengumpulkan pasukan hingga berjumlah 10.000 pasukan. Thalhah wafat setelah peperangan. Ayah Abdullah, Zubair bin Awwam juga wafat dipenggal. Ini menjadi perang saudara antar sesama muslim yang pertama.

Kemelut politik yang melibatkan Abdullah kembali terjadi saat kekhalifahan Muawiyah. Mu’awiyah wafat dan menunjuk putranya Yazid agar dibaiat sebagai Khalifah. Ia lalu bersurat kepada Gubernur Madinah, al-Walid bin Utbah bin Abu Sufyan (sepupu Yazid), untuk meminta tiga tokoh menyatakan pemba’iatan kepada Yazid. Ketiga tokoh itu adalah Husein bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Umar.

Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Sejarah para Nabi dan Raja menyebut, ketiga tokoh ini dipastikan akan masuk dalam dewan syura seandainya Mu’awiyah membentuknya. Namun, masih menurut Thabari, kecil kemungkinan ketiganya akan menyetujui Yazid sebagai khalifah. Abdullah bin Umar menjawab diplomatis dan menunggu masyarakat Madinah. Sementara, Husein dan Abdullah bin Zubair secara diam-diam ke Mekkah menghindari tekanan dan ancaman Gubernur al-Walid.

Di Mekkah, Husein menerima surat dukungan dari penduduk Kufah dan akan didukung menjadi khalifah. Abdullah bin Zubair mendukung rencana Husein untuk berangkat dari Mekkah ke Kufah. Husein bertolak ke Kufah. Namun,Yazid mengetahui hal ini. Lalu ia memerintahkan pasukannya menghadapi Sayyidina Husein dan keluarganya di Karbala. Imam Al-Thabari mengisahkan, dalam serangan di Karbala itu cucu Rasulullah dibunuh dan dipenggal. Kepalanya dibawa ke istana Yazid, sedangkan tubuhnya dibiarkan tanpa kepala.

Abdullah bin Zubair bertahan sebagai oposisi di Mekkah. Ia sempat akan diserang pula oleh Yazid. Yazid mencoba untuk menghentikan pemberontakan Ibnu Zubair dengan menyerbu Mekkah pada tahun 64 H. Ia mengirim pasukan yang dipimpin oleh Husain bin Numair. Pada saat pengepungan Mekkah, Husain menggunakan katapel, di mana peluru katapel ini pernah menghancurkan Ka’bah. Namun, Yazid yang kini bermarkas di Damaskus meninggal terlebih dahulu jatuh dari kuda. Karena mendengar kematian Yazid yang tiba-tiba, maka Husain bin Numair menghentikan pengepungan tersebut dan kembali ke Damaskus. Maka Ibnu Zubair dapat terbebaskan dan ia membangun kembali Ka’bah yang berantakan karena serbuan pasukan Umayyah.

Kematian Yazid yang tiba-tiba ini mengakibatkan pula makin berantakannya kekuasaan Bani Umayyah karena terjadi perang saudara antar Bani Umayyah.

Menurut Imam Suyuthi dalam Tarikh Khulafa, saat inilah Abdullah bin Zubair mengambil momentum mendeklarasikan diri sebagai Khalifah yang sah di Makkah. Salah seorang pendukungnya adalah Muslim bin Syihab, ayah dari Ibnu Syihab al-Zuhri yang kemudian menjadi cendekiawan muslim terkenal.

Ia mengkonsolidasikan kekuasaanya dengan mengirim seorang gubernur ke Kufah. Segera, Ibnu Zubair memantapkan keuasaannya di Iraq, Selatan Arabia dan bagian terbesar Syam, serta sebagian Mesir.

Sedangkan di Damaskus, Marwan sebagai bagian dari Muawiyah II dipilih sebagai Khalifah. Dualisme kekhalifahan ini pun terjadi. Khalifah Marwan dari pihak Muawiyah wafat dan digantikan Abdul Malik, anaknya yang melanjutkan konfrontasi dengan khalifah Abdullah bin Zubair.

Baca juga: Abdullah bin Zaid Sang Pembela Rasulullah SAW