Abdullah bin Salam, Pendeta Yahudi yang Mengimani Kerasulan Muhammad SAW | Surau

Abdullah bin Salam, Pendeta Yahudi yang Mengimani Kerasulan Muhammad SAW

Nama lengkapnya adalah Abdulah bin Salam bin Haris al-Israili. Dijuluki Abu Yusuf al-Israili, karena masih memiliki jalur nasab dengan Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Nama aslinya adalah Husain, kemudian setelah memeluk Islam, oleh Nabi Muhammad diganti menjadi Abdullah.

Abdullah bin Salam berasal dari Yahudi kabilah Bani Qainuqa, dan berkedudukan sebagai habr (rabi atau pendeta Yahudi). Pada masa itu, Abdullah adalah pendeta yang paling pandai dan terhormat di Madinah, sekaligus haleef (sekutu) Qawaaqilah dari Bani Auf bin Khazraj. Karena itu ia dihormati dan disegani di kota itu, baik dikalangan orang Yahudi maupun bukan.

Keseharian Abdullah bin Salam adalah beribadah, mengajar dan berkhotbah di kuil (sinagog). Sebagai seorang pemimpin agama Yahudi, ia mengetahui isi kandungan dari Taurat. Selanjutnya dia bertekad untuk mengabdikan diri mendalami kitab Taurat. Dalam pengabdiannya itu dia terpaku dan selalu terngiang pada beberapa ayat dalam kitab Taurat yang meramalkan tentang kedatangan seorang nabi yang akan melengkapi dakwah nabi-nabi terdahulu. Pria yang dikenal juga dengan panggilan Al-Husain ibn Salam ini berharap kepada Allah SWT agar memanjangkan umurnya sehingga bisa menyaksikan kemunculan Nabi tersebut. Allah mengabulkan permohonannya.

Abdullah bin Salam mulai mengumpulkan informasi dan membuat catatan tentang siapa nama Nabi tersebut, silsilahnya, sifat-sifatnya, waktu dan tempat asalnya dan kemudian mencocokannya dengan apa yang ada dalam kitab Taurat. Dari catatan yang ia buat itu, semakin menguatkan keyakinannya tentang bukti otentik kenabian Muhammad sekaligus membenarkan tujuan misinya. Namun demikian, keyakinan Abdullah bin Salam bahwa Muhammad adalah seorang nabi dan rasul baru belum seratus persen.

Akhirnya hari itu tiba, Nabi Muhammad SAW dan rombongannya sampai di Madinah. Abdullah bin Salam mendatangi Nabi Muhammad bersama para penduduk lainnya. Abdullah bin Salam memperhatikan dengan seksama wajah, gerak-gerik, sikap, dan gaya Nabi Muhammad SAW. Setelah mengamati, Abdullah bin Salam melihat bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah seorang pembohong. Tidak ada gurat kebohongan di wajah Nabi SAW.

Untuk menguji kebenaran dan untuk meyakinkan dirinya, ia mengajukan empat ‘pertanyaan langit’ kepada Nabi Muhammad SAW.

“Apa tanda pertama hari kiamat? Apa menu makanan yang pertama kali dinikmati penghuni surga? Mengapa seorang anak mirip dengan bapaknya? Lalu mengapa seorang anak mirip dengan ibunya? Dan apakah warna hitam yang di bulan?”

Nabi Muhammad diam sejenak. Kemudian setelah menerima wahyu dari Jibril, Nabi SAW langsung menjawab:

“Tanda pertama hari kiamat adalah adanya api yang menggiring manusia dari Timur ke Barat. Makanan pertama yang dinikmati penghuni surga adalah cuping hati ikan. Seorang anak akan mirip bapaknya jika bapaknya yang mencapai orgasme dahulu pada saat berhubungan badan. Begitupun sebaliknya, seorang anak mirip ibunya jika ibunya yang mencapai orgasme terlebih dahulu pada saat berhubungan badan. Dan warna hitam yang ada di bulan adalah dua matahari. ‘Maka adapun hitam yang kamu (Abdullah bin Salam) lihat, ia adalah penghapusan,” kata Rasulullah seperti dalam buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011)

Setelah mendengar jawaban Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Salam mengikrarkan dirinya masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Keyakinannya telah penuh setelah pertanyaan-pertanyaannya dijawab oleh Nabi Muhammad SAW.

Sementara dalam buku Jejak Perjuangan dan Keteladanan Sahabat-Sahabat Nabi yang ditulis Abdurrahman Ra’fat Al-Basya, Abdullah bin Salam menceritakan pertama kali dia mendengar kabar kedatangan Nabi Muhammad. Saat itu, Rasulullah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Setiba di Yatsrib, Rasulullah singgah di Quba, di pemukiman Bani Amr bin Auf.

“Seorang laki-laki datang kepada kami, dia mengumumkan kedatangannya (Rasulullah) kepada semua orang. Saat itu aku sedang berada di pucuk pohon kurma. Sedangkan Bibiku Khalidah binti al-Harits sedang duduk di bawah pohon. Begitu aku mendengar berita, maka aku langsung berucap Allahu Akbar, Allahu Akbar,” ujarnya.

Bibinya yang mendengar ucapan tersebut langsung berdoa agar Allah menggagalkan rencana Abdullah bin Salam masuk Islam.

“Demi Allah, seandainya kamu mendengar kehadiran Musa bin Imran, niscaya kami tidak akan melakukan lebih dari itu,” kata sang bibi.

“Bibiku, demi Allah sesungguhnya dia adalah saudara Musa bin Imran dan berada di atas agamanya. Dia diutus dengan apa yang Musa diutus dengannya,” timpal Abdullah bin Salam.

Tak berselang lama, Abdullah bin Salam menemui Rasulullah. Ia melihat Rasulullah sebagai sosok yang jujur. Bukan pembohong seperti yang diberitakan orang-orang kafir. Di hadapan Rasulullah, Abdullah bin Salam menyatakan masuk Islam. Setelah bertemu Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Salam kembali ke rumahnya. Dia mengajak istri, anak-anak dan keluarganya masuk Islam. Seluruh keluarga Abdullah bin Salam akhirnya masuk Islam.

“Rahasiakan keislaman kalian dan keislamanku di depan orang-orang Yahudi sampai aku memberitahu kalian,” kata Abdullah bin Salam kepada keluarganya.

Keislaman Abdullah masih dirasahasiakan agar tidak diketahui oleh Yahudi. Abdullah kembali mendatangi Rasulullah dan mengatakan, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Yahudi adalah kaum pembohong. Aku ingin agar engkau memasukkanku di sebagian rumahmu, menyembunyikan diriku dari mereka, kemudian engkau bertanya kepada mereka tentang diriku, sehingga mereka akan memberitakan kepadamu tentang kedudukanku di tengah mereka, sebelum mereka mengetahui keislamanmu. Sesungguhnya jika mereka mengetahui keislamanku, mereka akan berbohong dan mencela diriku”.

Rasul kemudian memasukkan Abdullah dalam rumah beliau. Setelah itu kaum Yahudi diundang masuk ke dalam rumah tersebut dan Rasul bertanya, “Bagaimanakah Husain bin Salam di tengah kalian?

Mereka menjawab, “Dia adalah pemimpin kami dan putra dari pemimpin kami. Dia adalah laki-laki terbaik dan teralim di tengah kami.”

Setelah Yahudi selesai menyampaikan jawaban mereka, Abdullah keluar menemui mereka dan berkata, “Wahai sekalian kaum Yahudi! Bertakwalah kepada Allah, dan terimalah ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Demi Allah! Sesungguhnya kalian mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kalian mengetahuinya tertulis dalam Taurat dengan nama dan ciri-cirinya. Aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah, aku beriman kepadanya, aku membenarkannya, dan aku mengenalnya.”

Mendengar itu, Yahudi mengatakan, “Engkau berdusta”. Kemudian mereka menfitnah Abdullah bin Salam

Abdullah berkata pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Bukankah aku telah berkata bahwa mereka adalah kaum pembohong, pengkhianat, dan penurut nafsu.

Setelah itu Abdullah menampakkan keislamannya beserta keluarga dan bibinya; Khalidah bin Harits

Baca juga: Kisah Ummar bin Khattab dan Ibu yang Memasak Batu

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart