Dunia modern seringkali memberikan tekanan mental yang sangat berat bagi setiap individu. Banyak orang mencari panduan hidup untuk meraih ketenangan batin yang sejati. Dua jalan populer sering muncul dalam diskusi mengenai kesehatan mental dan spiritualitas. Pertama adalah Stoisisme, sebuah filsafat kuno dari era Yunani-Romawi. Kedua adalah Riyadus Shalihin, kitab hadis legendaris karya Imam Nawawi.
Meskipun berasal dari latar belakang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang serupa. Keduanya ingin menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna dan tangguh. Mari kita bedah titik temu dan garis pisah antara keduanya.
Mengenal Filosofi Teras dan Taman Orang Shalih
Stoisisme atau Filosofi Teras menekankan pada kendali diri dan logika. Tokoh seperti Marcus Aurelius mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal internal. Kita tidak bisa mengontrol cuaca, opini orang lain, atau kematian. Namun, kita selalu bisa mengontrol persepsi dan tindakan kita sendiri terhadap hal tersebut.
Di sisi lain, Riyadus Shalihin berarti “Taman Orang-Orang Shalih”. Kitab ini merangkum ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Imam Nawawi menyusunnya sebagai panduan praktis etika bagi umat Muslim. Kitab ini menekankan kesucian niat, ibadah, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Titik Temu: Ketangguhan dan Pengendalian Diri
Kedua jalur ini bertemu pada satu titik krusial: pengendalian emosi. Stoikisme mengajarkan prinsip Dichotomy of Control atau Dikotomi Kendali. Prinsip ini sangat mirip dengan konsep sabar dan ridha dalam Islam. Keduanya meminta manusia untuk tidak larut dalam kesedihan atas hal yang hilang.
Seorang Stoik akan berkata bahwa kehilangan harta adalah hal netral secara moral. Sementara itu, Riyadus Shalihin mengajarkan bahwa musibah adalah ujian dari Tuhan. Marcus Aurelius dalam bukunya Meditations menulis:
“You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength.”
Kalimat tersebut sejalan dengan semangat dalam Riyadus Shalihin mengenai kekuatan jiwa. Islam mengajarkan bahwa kekuatan mukmin terletak pada kedekatannya dengan Sang Pencipta. Keduanya memandang bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari harta benda materi. Mereka sama-sama mempromosikan gaya hidup sederhana dan asketisme yang sehat.
Garis Pisah: Sumber Otoritas dan Tujuan Akhir
Meskipun terlihat mirip, garis pemisah antara keduanya sangatlah tegas. Perbedaan utama terletak pada sumber otoritas dan landasan pacunya. Stoisisme murni mengandalkan nalar manusia dan hukum alam (Logos). Manusia adalah pusat dari kekuasaan atas dirinya sendiri.
Sebaliknya, Riyadus Shalihin menempatkan Allah SWT sebagai pusat segala sesuatu. Segala bentuk kesabaran dan pengendalian diri merupakan bentuk ibadah kepada Tuhan. Seorang Muslim bersabar bukan hanya demi ketenangan pikiran pribadi. Ia bersabar karena mengharap pahala dan ridha dari Allah SWT.
Imam Nawawi mengutip hadis dalam Riyadus Shalihin:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa ketenangan Muslim berakar pada iman kepada takdir. Stoikisme mungkin mengenal Amor Fati atau mencintai takdir. Namun, Amor Fati tidak melibatkan hubungan personal dengan Tuhan yang Maha Pengasih.
Mengelola Hasrat dan Keinginan
Stoisisme berupaya menghapus emosi negatif melalui logika yang tajam. Mereka menyebutnya sebagai Apatheia, yaitu kondisi jiwa yang bebas dari gangguan. Manusia harus melihat dunia secara objektif tanpa bumbu emosi yang berlebihan.
Riyadus Shalihin justru mengarahkan emosi manusia ke jalan yang benar. Islam tidak meminta manusia menjadi robot tanpa perasaan. Islam mengajarkan manusia untuk menangis saat sedih namun tetap bersyukur. Emosi negatif seperti marah harus diredam demi meraih cinta Illahi. Perbedaan ini membuat Riyadus Shalihin terasa lebih manusiawi bagi sebagian orang.
Kesimpulan: Harmoni dalam Perbedaan
Membandingkan Stoisisme dan Riyadus Shalihin memberikan perspektif yang kaya. Kita bisa mengambil teknik manajemen stres dari kaum Stoik. Namun, kita bisa memperkuat fondasi spiritual melalui ajaran Imam Nawawi. Keduanya sama-sama menolak sifat rakus dan kesombongan manusia.
Pada akhirnya, kedua tradisi ini mengajak kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kita harus mampu berdiri tegak di tengah badai kehidupan yang sulit. Pilihlah jalan yang paling mampu menenangkan jiwa dan pikiran Anda hari ini. Ketenangan sejati bukan berarti tanpa masalah, melainkan kedamaian di dalam hati.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
